Alkisah, suatu waktu ada seorang pemuda yang baru saja lulus dari sebuah universitas terkemuka di sebuah negara maju. Dia mendapat kehormatan besar dari negaranya yang mengirimkannya ke luar negeri untuk mendapatkan pengajaran yang terbaik untuk menjadi seorang businessman handal.
Negara asal pemuda ini adalah negara yang baru saja terbentuk. Kecil, lemah, bodoh, terbelakang dan sangatlah miskin. Karenanya, mereka sangat berharap pada pemuda ini, yang memang terbilang jenius, untuk bisa mengangkat pamor negara itu.
Pemuda ini sungguh luar biasa. Dia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan rekor hanya dalam waktu 2 tahun saja, setengah dari orang normal. Bukan itu saja, dia bahkan mendapat gelar “magna cum laude”. Luar biasa cing… Dia pun menjadi seorang ahli ekonomi yang sangat… hebat.
Tentu saja, dia bukan kacang yang lupa sama kulitnya. Pemuda ini kembali ke negaranya dengan gairah yang berkobar-kobar. Dia bertekat untuk memajukan negaranya. Seribu rancangan program sudah disusun dalam benaknya. Namanya saja jenius…
Saat sampai di negaranya… dia melepas rindu dengan berjalan-jalan sejenak. Ketika itu, ia melihat sebuah desa yang sedang sibuk membuat rumah tempat tinggal dari bambu dan jerami. Dalam hati sang pemuda ini, dia prihatin dan tersenyum kecil. Di tempat dia kuliah dulu, negaranya sangat maju, makanya setiap rumah dibuat dengan menggunakan batu, semen, dan pasir. Dia ingin menolong desa itu.
Dia pun mendekati para penduduk desa dan mulai bercerita tentang rumah modern yang ada di negara maju. Penduduk desa tahu bahwa pemuda ini lulusan luar negeri dan sangat cerdas. Mereka pun menuruti anjuran pemuda ini. Mereka mulai mencari pasir di sungai, mengumpulkan batu di tebing, dan menambang kapur di bukit.
Setahun kemudian desa itu berdiri tegak dengan gagahnya. Sangat mengesankan. Pemuda ini bangga karena dia sukses sebagai pemimpin proyek. Walaupun sulit, dia berhasil mengarahkan pembangunan rumah yang katanya modern itu. Yah… walaupun tidak sempurna, paling nggak bangunannya jadi.
Pemuda ini semakin menggebu-gebu dan dia mulai pergi dari satu desa ke desa lainnya. Dia mulai menjadi pemimpin dari desa-desa dalam membangun rumah-rumah modern. 15 tahun lebih lamanya dia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih dari 20 perkampungan telah berdiri dengan gagah.
Setelah sukses, beberapa waktu kemudian pemuda ini mulai penasaran dengan seluruh hasil kerjanya. Pemuda ini berkeliling dan mulai menjajaki desa-desa yang telah sukses dia bangun. Dengan membusungkan dada, dia memulai perjalanannya…
Ketika sampai di desa pertama dia kaget. Loh… kok bangunannya berganti menjadi gubuk lagi. Lah..loh.. dia pun bertanya kepada seorang penduduk desa. Ternyata… daerah itu terkenal sangatlah panas. Apalagi setelah rumah mereka diganti menjadi batu, panasnya bukan main. Para penduduk pun tidak tahan dan memutuskan untuk merobohkan dan menggantinya dengan gubuk biasa mereka.
Ketika melihat desa kedua, pemuda ini lebih kaget lagi. Para penduduknya tinggal sedikit dan sebagian sudah sakit-sakitan. Dia pun menyamar dan diam-diam menanyakannya. Ternyata... para penduduknya mengalami kelaparan. Biasanya mereka mempunyai lumbung persediaan yang cukup untuk hidup selama 2 tahun. Namun, stok mereka habis karena saat membangun rumah batu, mereka semua bekerja setahun penuh dan lupa untuk mengerjakan ladang mereka. Mereka percaya bahwa rumah batu itu dapat membawa kemakmuran bagi mereka, makanya mereka mengabaikan ladang mereka. Setelah rumah baru berdiri, mereka baru mengerjakan ladang mereka kembali. Namun sungguh celaka, 2 tahun berturut-turut berikutnya panen mereka gagal. Padahal lumbung persediaan mereka sudah habis.
Lebih syok lagi saat dia menjenguk desa ketiga. Desa itu sudah nggak ada lagi… semua rata dengan tanah. Pemuda ini bingung keheranan. Dia mulai mencocokkan peta dan kompas untuk memastikan posisi desa itu. Berulang-ulang dia mengeceknya, namun posisinya tepat. Dia pun mulai mencari-cari informasi dan mendapatkan sebuah kenyataan… desa itu hancur lebur ditelan gempa 5 tahun yang lalu. Sebenarnya daerah itu terkenal sering kena gempa, makanya mereka biasa membangun rumah mereka dengan jerami dan bambu agar mudah bongkar pasang dan elastis. Namun saat pemuda itu mengatakan bahwa rumah batu lebih kokoh, mereka percaya dan mulai membangunnya. Tapi apa dinyana, justru saat gempa besar datang, semua penduduk yang berlindung dalam rumah batu justru mati kejatuhan batu dari rumah yang roboh karena fondasinya yang rapuh.
Apa sih yang sebenarnya mau disampaikan dari cerita ini? Prenzz…. Tahu nggak, sebenarnya pemuda ini sarjana ekonomi. Tapi… yang dia lakukan bukannya memajukan ekonomi negaranya, tapi malah sibuk mengadakan pembangunan yang sebenarnya bukan keahliannya.
Sama seperti kita… Tuhan telah memberikan karunia dan potensi bagi tiap-tiap orang. Ada spesifikasi khusus. Kita disiapkan untuk menjadi orang-orang yang sukses di bidang kita masing-masing. Sayangnya, terkadang kita nggak bisa fokus pada target/sasaran utama kita.
Seperti tertulis di Kisah Para Rasul 1:8, Yesus berkata, “Setelah mendapat kuasa dan Roh Kudus dari-Nya, kita diperintahkan menjadi duta kerajaan Allah sampai ke seluruh dunia.” Maksudnya apa sih? Apa ini berarti kita disuruh menjadi penginjil ke seluruh pelosok?
Nggak… Yesus bilang, kita akan mendapat “kuasa”, ini maksudnya potensi dan talenta kita yang spesifik bagi tiap-tiap orang. Yang kedua, Roh Kudus akan turun atas kita yang akan menjadi pembimbing kita, dan yang terakhir kita disuruh menceritakan tentang Yesus dari tempat yang dekat sampai yang jauh.
Maksudnya… Tuhan telah menetapkan bagi kita, suatu takaran talenta yang Dia kehendaki agar kita kembangkan di bawah pimpinan Roh Kudus(mau dipimpin oleh Roh Kudus), dan menggunakannya untuk mengabarkan kabar baik demi kemuliaan-Nya. Misalnya kamu pintar komputer, jadilah ahli computer yang hebat demi kemuliaan Tuhan, atau mungkin kamu pintar desain, jadilah seorang desainer kreatif. Dan dengan membiarkan dirimu untuk dipimpin oleh Roh Kudus, jadilah semakin bertambah-tambah. Dan biarkanlah segala pencapaianmu boleh “bercerita” kepada orang-orang, betapa dahsyatnya Tuhan kita itu.
Jangan lagi kita sering beralih fokus dan masih sering sibuk ngelakuin hal lain kaya cerita “pemuda tidak berhikmat” di atas. Melakukan hal yang baik tidak salah, tetapi bukan berarti benar. Karena kadang Tuhan sebenarnya menyuruh kita untuk melakukan hal yang lain.
“Focus to be an ambassador of God” dengan seluruh talentamu dan muliakanlah Dia.
Jumat, 19 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar