aku pernah berpikir...
kalau saja aku menanyakan kepada Tuhan...
" Tuhan, sebesar apakah cinta-Mu kepadaku?"
Tuhan akan hening...
dan tetap terus diam
bahkan...
Dia sendiri tidak bisa menjawabnya.
berapapun waktu yang tersedia,
berapapun kata yang mampu terucapkan,
tak akan mampu membuat-Nya mengungkapkan betapa besar rasa cinta-Nya padaku.
bahkan Dia yang adalah Tuhan sendiri,
tetap tidak bisa menyediakan kata dan waktu yang tepat untuk mengucapkannya.
tak satupun mewakilinya.
sebab, tidak ada satupun kata yang kita pahami yang dapat menggambarkannya
rasa cinta-Nya kepadaku.
Jumat, 19 Desember 2008
FOCUS TO BE AN AMBASSADOR OF GOD
Alkisah, suatu waktu ada seorang pemuda yang baru saja lulus dari sebuah universitas terkemuka di sebuah negara maju. Dia mendapat kehormatan besar dari negaranya yang mengirimkannya ke luar negeri untuk mendapatkan pengajaran yang terbaik untuk menjadi seorang businessman handal.
Negara asal pemuda ini adalah negara yang baru saja terbentuk. Kecil, lemah, bodoh, terbelakang dan sangatlah miskin. Karenanya, mereka sangat berharap pada pemuda ini, yang memang terbilang jenius, untuk bisa mengangkat pamor negara itu.
Pemuda ini sungguh luar biasa. Dia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan rekor hanya dalam waktu 2 tahun saja, setengah dari orang normal. Bukan itu saja, dia bahkan mendapat gelar “magna cum laude”. Luar biasa cing… Dia pun menjadi seorang ahli ekonomi yang sangat… hebat.
Tentu saja, dia bukan kacang yang lupa sama kulitnya. Pemuda ini kembali ke negaranya dengan gairah yang berkobar-kobar. Dia bertekat untuk memajukan negaranya. Seribu rancangan program sudah disusun dalam benaknya. Namanya saja jenius…
Saat sampai di negaranya… dia melepas rindu dengan berjalan-jalan sejenak. Ketika itu, ia melihat sebuah desa yang sedang sibuk membuat rumah tempat tinggal dari bambu dan jerami. Dalam hati sang pemuda ini, dia prihatin dan tersenyum kecil. Di tempat dia kuliah dulu, negaranya sangat maju, makanya setiap rumah dibuat dengan menggunakan batu, semen, dan pasir. Dia ingin menolong desa itu.
Dia pun mendekati para penduduk desa dan mulai bercerita tentang rumah modern yang ada di negara maju. Penduduk desa tahu bahwa pemuda ini lulusan luar negeri dan sangat cerdas. Mereka pun menuruti anjuran pemuda ini. Mereka mulai mencari pasir di sungai, mengumpulkan batu di tebing, dan menambang kapur di bukit.
Setahun kemudian desa itu berdiri tegak dengan gagahnya. Sangat mengesankan. Pemuda ini bangga karena dia sukses sebagai pemimpin proyek. Walaupun sulit, dia berhasil mengarahkan pembangunan rumah yang katanya modern itu. Yah… walaupun tidak sempurna, paling nggak bangunannya jadi.
Pemuda ini semakin menggebu-gebu dan dia mulai pergi dari satu desa ke desa lainnya. Dia mulai menjadi pemimpin dari desa-desa dalam membangun rumah-rumah modern. 15 tahun lebih lamanya dia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih dari 20 perkampungan telah berdiri dengan gagah.
Setelah sukses, beberapa waktu kemudian pemuda ini mulai penasaran dengan seluruh hasil kerjanya. Pemuda ini berkeliling dan mulai menjajaki desa-desa yang telah sukses dia bangun. Dengan membusungkan dada, dia memulai perjalanannya…
Ketika sampai di desa pertama dia kaget. Loh… kok bangunannya berganti menjadi gubuk lagi. Lah..loh.. dia pun bertanya kepada seorang penduduk desa. Ternyata… daerah itu terkenal sangatlah panas. Apalagi setelah rumah mereka diganti menjadi batu, panasnya bukan main. Para penduduk pun tidak tahan dan memutuskan untuk merobohkan dan menggantinya dengan gubuk biasa mereka.
Ketika melihat desa kedua, pemuda ini lebih kaget lagi. Para penduduknya tinggal sedikit dan sebagian sudah sakit-sakitan. Dia pun menyamar dan diam-diam menanyakannya. Ternyata... para penduduknya mengalami kelaparan. Biasanya mereka mempunyai lumbung persediaan yang cukup untuk hidup selama 2 tahun. Namun, stok mereka habis karena saat membangun rumah batu, mereka semua bekerja setahun penuh dan lupa untuk mengerjakan ladang mereka. Mereka percaya bahwa rumah batu itu dapat membawa kemakmuran bagi mereka, makanya mereka mengabaikan ladang mereka. Setelah rumah baru berdiri, mereka baru mengerjakan ladang mereka kembali. Namun sungguh celaka, 2 tahun berturut-turut berikutnya panen mereka gagal. Padahal lumbung persediaan mereka sudah habis.
Lebih syok lagi saat dia menjenguk desa ketiga. Desa itu sudah nggak ada lagi… semua rata dengan tanah. Pemuda ini bingung keheranan. Dia mulai mencocokkan peta dan kompas untuk memastikan posisi desa itu. Berulang-ulang dia mengeceknya, namun posisinya tepat. Dia pun mulai mencari-cari informasi dan mendapatkan sebuah kenyataan… desa itu hancur lebur ditelan gempa 5 tahun yang lalu. Sebenarnya daerah itu terkenal sering kena gempa, makanya mereka biasa membangun rumah mereka dengan jerami dan bambu agar mudah bongkar pasang dan elastis. Namun saat pemuda itu mengatakan bahwa rumah batu lebih kokoh, mereka percaya dan mulai membangunnya. Tapi apa dinyana, justru saat gempa besar datang, semua penduduk yang berlindung dalam rumah batu justru mati kejatuhan batu dari rumah yang roboh karena fondasinya yang rapuh.
Apa sih yang sebenarnya mau disampaikan dari cerita ini? Prenzz…. Tahu nggak, sebenarnya pemuda ini sarjana ekonomi. Tapi… yang dia lakukan bukannya memajukan ekonomi negaranya, tapi malah sibuk mengadakan pembangunan yang sebenarnya bukan keahliannya.
Sama seperti kita… Tuhan telah memberikan karunia dan potensi bagi tiap-tiap orang. Ada spesifikasi khusus. Kita disiapkan untuk menjadi orang-orang yang sukses di bidang kita masing-masing. Sayangnya, terkadang kita nggak bisa fokus pada target/sasaran utama kita.
Seperti tertulis di Kisah Para Rasul 1:8, Yesus berkata, “Setelah mendapat kuasa dan Roh Kudus dari-Nya, kita diperintahkan menjadi duta kerajaan Allah sampai ke seluruh dunia.” Maksudnya apa sih? Apa ini berarti kita disuruh menjadi penginjil ke seluruh pelosok?
Nggak… Yesus bilang, kita akan mendapat “kuasa”, ini maksudnya potensi dan talenta kita yang spesifik bagi tiap-tiap orang. Yang kedua, Roh Kudus akan turun atas kita yang akan menjadi pembimbing kita, dan yang terakhir kita disuruh menceritakan tentang Yesus dari tempat yang dekat sampai yang jauh.
Maksudnya… Tuhan telah menetapkan bagi kita, suatu takaran talenta yang Dia kehendaki agar kita kembangkan di bawah pimpinan Roh Kudus(mau dipimpin oleh Roh Kudus), dan menggunakannya untuk mengabarkan kabar baik demi kemuliaan-Nya. Misalnya kamu pintar komputer, jadilah ahli computer yang hebat demi kemuliaan Tuhan, atau mungkin kamu pintar desain, jadilah seorang desainer kreatif. Dan dengan membiarkan dirimu untuk dipimpin oleh Roh Kudus, jadilah semakin bertambah-tambah. Dan biarkanlah segala pencapaianmu boleh “bercerita” kepada orang-orang, betapa dahsyatnya Tuhan kita itu.
Jangan lagi kita sering beralih fokus dan masih sering sibuk ngelakuin hal lain kaya cerita “pemuda tidak berhikmat” di atas. Melakukan hal yang baik tidak salah, tetapi bukan berarti benar. Karena kadang Tuhan sebenarnya menyuruh kita untuk melakukan hal yang lain.
“Focus to be an ambassador of God” dengan seluruh talentamu dan muliakanlah Dia.
Negara asal pemuda ini adalah negara yang baru saja terbentuk. Kecil, lemah, bodoh, terbelakang dan sangatlah miskin. Karenanya, mereka sangat berharap pada pemuda ini, yang memang terbilang jenius, untuk bisa mengangkat pamor negara itu.
Pemuda ini sungguh luar biasa. Dia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan rekor hanya dalam waktu 2 tahun saja, setengah dari orang normal. Bukan itu saja, dia bahkan mendapat gelar “magna cum laude”. Luar biasa cing… Dia pun menjadi seorang ahli ekonomi yang sangat… hebat.
Tentu saja, dia bukan kacang yang lupa sama kulitnya. Pemuda ini kembali ke negaranya dengan gairah yang berkobar-kobar. Dia bertekat untuk memajukan negaranya. Seribu rancangan program sudah disusun dalam benaknya. Namanya saja jenius…
Saat sampai di negaranya… dia melepas rindu dengan berjalan-jalan sejenak. Ketika itu, ia melihat sebuah desa yang sedang sibuk membuat rumah tempat tinggal dari bambu dan jerami. Dalam hati sang pemuda ini, dia prihatin dan tersenyum kecil. Di tempat dia kuliah dulu, negaranya sangat maju, makanya setiap rumah dibuat dengan menggunakan batu, semen, dan pasir. Dia ingin menolong desa itu.
Dia pun mendekati para penduduk desa dan mulai bercerita tentang rumah modern yang ada di negara maju. Penduduk desa tahu bahwa pemuda ini lulusan luar negeri dan sangat cerdas. Mereka pun menuruti anjuran pemuda ini. Mereka mulai mencari pasir di sungai, mengumpulkan batu di tebing, dan menambang kapur di bukit.
Setahun kemudian desa itu berdiri tegak dengan gagahnya. Sangat mengesankan. Pemuda ini bangga karena dia sukses sebagai pemimpin proyek. Walaupun sulit, dia berhasil mengarahkan pembangunan rumah yang katanya modern itu. Yah… walaupun tidak sempurna, paling nggak bangunannya jadi.
Pemuda ini semakin menggebu-gebu dan dia mulai pergi dari satu desa ke desa lainnya. Dia mulai menjadi pemimpin dari desa-desa dalam membangun rumah-rumah modern. 15 tahun lebih lamanya dia bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih dari 20 perkampungan telah berdiri dengan gagah.
Setelah sukses, beberapa waktu kemudian pemuda ini mulai penasaran dengan seluruh hasil kerjanya. Pemuda ini berkeliling dan mulai menjajaki desa-desa yang telah sukses dia bangun. Dengan membusungkan dada, dia memulai perjalanannya…
Ketika sampai di desa pertama dia kaget. Loh… kok bangunannya berganti menjadi gubuk lagi. Lah..loh.. dia pun bertanya kepada seorang penduduk desa. Ternyata… daerah itu terkenal sangatlah panas. Apalagi setelah rumah mereka diganti menjadi batu, panasnya bukan main. Para penduduk pun tidak tahan dan memutuskan untuk merobohkan dan menggantinya dengan gubuk biasa mereka.
Ketika melihat desa kedua, pemuda ini lebih kaget lagi. Para penduduknya tinggal sedikit dan sebagian sudah sakit-sakitan. Dia pun menyamar dan diam-diam menanyakannya. Ternyata... para penduduknya mengalami kelaparan. Biasanya mereka mempunyai lumbung persediaan yang cukup untuk hidup selama 2 tahun. Namun, stok mereka habis karena saat membangun rumah batu, mereka semua bekerja setahun penuh dan lupa untuk mengerjakan ladang mereka. Mereka percaya bahwa rumah batu itu dapat membawa kemakmuran bagi mereka, makanya mereka mengabaikan ladang mereka. Setelah rumah baru berdiri, mereka baru mengerjakan ladang mereka kembali. Namun sungguh celaka, 2 tahun berturut-turut berikutnya panen mereka gagal. Padahal lumbung persediaan mereka sudah habis.
Lebih syok lagi saat dia menjenguk desa ketiga. Desa itu sudah nggak ada lagi… semua rata dengan tanah. Pemuda ini bingung keheranan. Dia mulai mencocokkan peta dan kompas untuk memastikan posisi desa itu. Berulang-ulang dia mengeceknya, namun posisinya tepat. Dia pun mulai mencari-cari informasi dan mendapatkan sebuah kenyataan… desa itu hancur lebur ditelan gempa 5 tahun yang lalu. Sebenarnya daerah itu terkenal sering kena gempa, makanya mereka biasa membangun rumah mereka dengan jerami dan bambu agar mudah bongkar pasang dan elastis. Namun saat pemuda itu mengatakan bahwa rumah batu lebih kokoh, mereka percaya dan mulai membangunnya. Tapi apa dinyana, justru saat gempa besar datang, semua penduduk yang berlindung dalam rumah batu justru mati kejatuhan batu dari rumah yang roboh karena fondasinya yang rapuh.
Apa sih yang sebenarnya mau disampaikan dari cerita ini? Prenzz…. Tahu nggak, sebenarnya pemuda ini sarjana ekonomi. Tapi… yang dia lakukan bukannya memajukan ekonomi negaranya, tapi malah sibuk mengadakan pembangunan yang sebenarnya bukan keahliannya.
Sama seperti kita… Tuhan telah memberikan karunia dan potensi bagi tiap-tiap orang. Ada spesifikasi khusus. Kita disiapkan untuk menjadi orang-orang yang sukses di bidang kita masing-masing. Sayangnya, terkadang kita nggak bisa fokus pada target/sasaran utama kita.
Seperti tertulis di Kisah Para Rasul 1:8, Yesus berkata, “Setelah mendapat kuasa dan Roh Kudus dari-Nya, kita diperintahkan menjadi duta kerajaan Allah sampai ke seluruh dunia.” Maksudnya apa sih? Apa ini berarti kita disuruh menjadi penginjil ke seluruh pelosok?
Nggak… Yesus bilang, kita akan mendapat “kuasa”, ini maksudnya potensi dan talenta kita yang spesifik bagi tiap-tiap orang. Yang kedua, Roh Kudus akan turun atas kita yang akan menjadi pembimbing kita, dan yang terakhir kita disuruh menceritakan tentang Yesus dari tempat yang dekat sampai yang jauh.
Maksudnya… Tuhan telah menetapkan bagi kita, suatu takaran talenta yang Dia kehendaki agar kita kembangkan di bawah pimpinan Roh Kudus(mau dipimpin oleh Roh Kudus), dan menggunakannya untuk mengabarkan kabar baik demi kemuliaan-Nya. Misalnya kamu pintar komputer, jadilah ahli computer yang hebat demi kemuliaan Tuhan, atau mungkin kamu pintar desain, jadilah seorang desainer kreatif. Dan dengan membiarkan dirimu untuk dipimpin oleh Roh Kudus, jadilah semakin bertambah-tambah. Dan biarkanlah segala pencapaianmu boleh “bercerita” kepada orang-orang, betapa dahsyatnya Tuhan kita itu.
Jangan lagi kita sering beralih fokus dan masih sering sibuk ngelakuin hal lain kaya cerita “pemuda tidak berhikmat” di atas. Melakukan hal yang baik tidak salah, tetapi bukan berarti benar. Karena kadang Tuhan sebenarnya menyuruh kita untuk melakukan hal yang lain.
“Focus to be an ambassador of God” dengan seluruh talentamu dan muliakanlah Dia.
QUALITIES OF AN AMBASSADOR OF GOD
Sebuah doa yang sangat indah dinaikkan oleh Daniel, sesuai dengan yang tertulis di kitab Daniel pasal 9. Doa ini merefleksikan kedewasaan dan hasrat seseorang yang benar-benar dewasa sebagai seorang duta kerajaan Allah. Kenapa Daniel menjadi seseorang yang benar-benar berkualitas? Kalau kita boleh melihat karakternya, Daniel mempunyai karakter berkualitas sabagai duta kerajaan Allah.
1. Keintiman dengan Tuhan.
2. Mengutamakan reputasi/kemuliaan Allah.
3. Hasrat dan penantian akan penggenapan tujuan Allah.
4. Pengetahuan akan Sifat dan Karakter Tuhan.
Seperti Daniel yang tahu betul akan sifat Tuhan seperti tertulis di kitab Daniel 9:3,7,9; syarat dasar untuk menjadi duta kerajaan Allah adalah pemahaman kita akan sifat dan karakter Tuhan yang sebenarnya. Hal ini akan membuat kita benar-benar mengenal Tuhan kita dan mengerti jalan-jalan-Nya. Kita akan mampu menjalin hubungan intim dengan Tuhan. Saat kita mengenal Tuhan, dia akan mengaruniakan hidup yang kekal bagi kita (Yoh 17:3). Sebaliknya, kehancuran akan datang bagi orang yang tidak mengenal Allah (Hosea 4:6). Masalahnya, saat ini dunia tengah kacau balau karena orang-orang tidak benar-benar mengerti tentang Yesus yang sebenarnya. Karena itu, menjadi tugas kita untuk mengenalkan Yesus bagi mereka, lewat kelakuan kita, ucapan kita, kebiasaan kita, karakter kita dan hidup kita. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang walaupun kelihatan “rohani”, namun kita sebenarnya nggak tahu apa-apa tentang Tuhan kita, danbahkan nggak dikenali oleh-Nya (Mat 7:23).
Mengutamakan reputasi/kemuliaan Allah.
Seorang duta kerajaan Allah akan mengutamakan kemuliaan Allah di atas segala-galanya. Misalnya duta besar dari Amerika tentu saja akan mengutamakan kepentingan negara Amerika, dan bukannya kepentingan Indonesia. Apabila duta besar itu melakukan hal yang mengutamkan kepentingan negara lain, bisa-bisa dia dipecat dari tugasnya sebagai duta besar. Lihatlah Daniel, dia juga mengutamakan kemuliaan Allah dalam segala hal yang dipikirkannya, sebab dia tahu bahwa dia adalah utusan Tuhan dan kepunyaan Tuhan. (Daniel 9:17,19)
Sama juga dengan kita, sebagai duta kerajaan Allah, kita harus mengutamakan kepentingan Tuhan di atas segala kepentingan pribadi kita sendiri. Tidak jarang kita sering melakukan berbagai macam hal dengan mengatasnamakan Tuhan sebagai “kedok” nya. Padahal kalau mau diurut-urut, sebenarnya yang kita usahakan adalah kepuasan dan kebanggaan atau malah demi keuntungan kita sendiri. Atau mungkin juga, tanpa kita sadari, beberapa hal yang kita “rasa” kita lakukan buat Tuhan, sebenarnya kita lakukan buat diri kita sendiri.
Ada orang yang mengatakan, perbedaan antara melayani Tuhan dengan melayani diri sendiri (baca: untuk kepentingan atau kesenangan pribadi) sangatlah tipis. Kita pikir kita melakukannya buat Tuhan, padahal Tuhan sendiri nggak pernah meminta kita untuk melakukan hal itu. So, untuk siapakah semua itu??? Biarlah hanya nama Tuhan saja yang ditinggikan…
Kerinduan Pemulihan Kerajaan Allah bagi Umat Manusia
Daniel sangat peduli pada restorasi bait Allah. Apa maksudnya??? (Daniel 8:14)Sejatinya, Tuhanlah yang empunya akan bumi ini. Dia rindu agar kerajaan Allah ditegakkan ditengah-tengah umat manusia sehingga ke-Maha Hadir-annya dapat dirasakan oleh seluruh orang.
Namun apa yang terjadi? Lama sekali, dunia terinfeksi oleh sebuah virus mematikan. Sama seperti penyakit yang masuk oleh karena suatu organisme, begitu juga dosa masuk ke dalam dunia oleh ‘sang penghasut’ terbesar, setan. Ribuan tahun manusia ditipu dan diperdaya, seolah dibutakan oleh dosa dan nafsu duniawi, sehingga tidak bisa melihat terang kemuliaan Allah.
Sudah menjadi tugas kita sebagai duta kerajaan Allah, kita harus membawa kembali kebenaran Kristus ke dalam dunia ini. Biarlah setiap orang boleh dicelikkan dan melihat kebenaran sejati, yaitu pengenalan akan Tuhan yang sesungguhnya.
1. Keintiman dengan Tuhan.
2. Mengutamakan reputasi/kemuliaan Allah.
3. Hasrat dan penantian akan penggenapan tujuan Allah.
4. Pengetahuan akan Sifat dan Karakter Tuhan.
Seperti Daniel yang tahu betul akan sifat Tuhan seperti tertulis di kitab Daniel 9:3,7,9; syarat dasar untuk menjadi duta kerajaan Allah adalah pemahaman kita akan sifat dan karakter Tuhan yang sebenarnya. Hal ini akan membuat kita benar-benar mengenal Tuhan kita dan mengerti jalan-jalan-Nya. Kita akan mampu menjalin hubungan intim dengan Tuhan. Saat kita mengenal Tuhan, dia akan mengaruniakan hidup yang kekal bagi kita (Yoh 17:3). Sebaliknya, kehancuran akan datang bagi orang yang tidak mengenal Allah (Hosea 4:6). Masalahnya, saat ini dunia tengah kacau balau karena orang-orang tidak benar-benar mengerti tentang Yesus yang sebenarnya. Karena itu, menjadi tugas kita untuk mengenalkan Yesus bagi mereka, lewat kelakuan kita, ucapan kita, kebiasaan kita, karakter kita dan hidup kita. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang walaupun kelihatan “rohani”, namun kita sebenarnya nggak tahu apa-apa tentang Tuhan kita, danbahkan nggak dikenali oleh-Nya (Mat 7:23).
Mengutamakan reputasi/kemuliaan Allah.
Seorang duta kerajaan Allah akan mengutamakan kemuliaan Allah di atas segala-galanya. Misalnya duta besar dari Amerika tentu saja akan mengutamakan kepentingan negara Amerika, dan bukannya kepentingan Indonesia. Apabila duta besar itu melakukan hal yang mengutamkan kepentingan negara lain, bisa-bisa dia dipecat dari tugasnya sebagai duta besar. Lihatlah Daniel, dia juga mengutamakan kemuliaan Allah dalam segala hal yang dipikirkannya, sebab dia tahu bahwa dia adalah utusan Tuhan dan kepunyaan Tuhan. (Daniel 9:17,19)
Sama juga dengan kita, sebagai duta kerajaan Allah, kita harus mengutamakan kepentingan Tuhan di atas segala kepentingan pribadi kita sendiri. Tidak jarang kita sering melakukan berbagai macam hal dengan mengatasnamakan Tuhan sebagai “kedok” nya. Padahal kalau mau diurut-urut, sebenarnya yang kita usahakan adalah kepuasan dan kebanggaan atau malah demi keuntungan kita sendiri. Atau mungkin juga, tanpa kita sadari, beberapa hal yang kita “rasa” kita lakukan buat Tuhan, sebenarnya kita lakukan buat diri kita sendiri.
Ada orang yang mengatakan, perbedaan antara melayani Tuhan dengan melayani diri sendiri (baca: untuk kepentingan atau kesenangan pribadi) sangatlah tipis. Kita pikir kita melakukannya buat Tuhan, padahal Tuhan sendiri nggak pernah meminta kita untuk melakukan hal itu. So, untuk siapakah semua itu??? Biarlah hanya nama Tuhan saja yang ditinggikan…
Kerinduan Pemulihan Kerajaan Allah bagi Umat Manusia
Daniel sangat peduli pada restorasi bait Allah. Apa maksudnya??? (Daniel 8:14)Sejatinya, Tuhanlah yang empunya akan bumi ini. Dia rindu agar kerajaan Allah ditegakkan ditengah-tengah umat manusia sehingga ke-Maha Hadir-annya dapat dirasakan oleh seluruh orang.
Namun apa yang terjadi? Lama sekali, dunia terinfeksi oleh sebuah virus mematikan. Sama seperti penyakit yang masuk oleh karena suatu organisme, begitu juga dosa masuk ke dalam dunia oleh ‘sang penghasut’ terbesar, setan. Ribuan tahun manusia ditipu dan diperdaya, seolah dibutakan oleh dosa dan nafsu duniawi, sehingga tidak bisa melihat terang kemuliaan Allah.
Sudah menjadi tugas kita sebagai duta kerajaan Allah, kita harus membawa kembali kebenaran Kristus ke dalam dunia ini. Biarlah setiap orang boleh dicelikkan dan melihat kebenaran sejati, yaitu pengenalan akan Tuhan yang sesungguhnya.
UNITY BY PERSPECTIVE – MIRACLE OF THE RAINBOW AND BALL
PART TWO
Bayangkan dalam pikiran kita masing-masing, sebuah bola yang guede banget… terus di badan bola itu tertempel begitu banyak kertas-kertas kecil dengan kata-kata yang berbeda-beda, tertulis di atas kertas itu. Kemudian kita bayangkan ada banyak orang yang berkeliling di sekitar bola itu. Kepada tiap-tiap orang, dibagikan sebuah kertas dan pena dan diberi instruksi untuk mencatat semua kata-kata yang dapat mereka lihat di badan bola itu.
Apa hasilnya saat semua orang sudah menyelesaikan tugas mereka??? Apa mungkin ada 2 orang saja yang bisa mencatatkan semua kata-kata dengan persis sama??? Nggak mungkin bukan !!! Karena masing-masing dari mereka berada pada posisi yang berbeda.
Lucu bukan… Tuhan menciptakan perspektif yang berbeda-beda bagi masing-masing individu. Apa alasannya??? Itu terjadi agar semua visi dan tugas dan kehendak yang dia rindukan untuk terjadi bagi kita, umat manusia, dapat dipenuhi ‘completely’. Kalo diilustrasikan, semua kata-kata yang tertulis pada badan bola tadi dapat terbaca semuanya…
Sekarang ini bukan saatnya lagi bagi kita untuk meributkan tulisan manakah yang sebenarnya paling benar, karena kadang kita suka sekali menyalahkan orang lain kalo kata-kata yang dituliskannya itu salah, tapi yang benar itu punyanya. Please dehh… sebenernya semua kata-kata itu memang ada pada bola, hanya saja letaknya yang berbeda, sehingga dengan sudut pandang yang berbeda, akan kelihatan berbeda pula ato bahkan nggak keliatan sama sekali.
Terkadang… kita semua saat menghadapi masalah perbedaan yang ada di antara kita sering berusaha mempertanyakan tentang “bagaimana kita memposisikan diri kita sehingga bisa melihat dari sudut pandang yang sama???”
Bukan itu maksudnya… Tuhan menciptakan setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan tujuan agar mereka saling melengkapi, …sehingga genaplah Firman Tuhan atas semua tujuan yang telah direncanakan bagi hidup kita semua.
Kita tidak disuruh untuk memposisikan diri kita di tempat yang persis sama di tempat orang lain untuk melihat kata-kata yang sama persis dengan apa yang orang lain itu baca. Itu tidak mungkin karena posisi itu sudah ditempati oleh orang lain itu. Katakanlah sekarang kita berusaha untuk sedekat mungkin denga posisi dimana orang itu berada. Tapi… tetap saja masih ada kata-kata yang tidak bisa terbaca oleh kita, sehingga hasilnya juga akan berbeda.
Dan… apabila kita bisa melihat sebagian besar kata-kata yang dibaca oleh orang lain itu, bukan berarti kita akan mampu untuk mengerti dan memahami perspektif yang dia miliki, karena…. Perspektif kita sesungguhnya berada pada tempat di mana kita pertama kali berdiri untuk membaca kata-kata yang telah Tuhan instruksikan untuk kita baca.
Perspektif atau visi yang berbeda itu adalah karunia yang telah Tuhan berikan secara ‘khusus’ ditempatkan pada masing-masing individu. Jadi kalo kita sendiri tidak bisa menghargai karunia Tuhan, bagaimana mungkin kita bisa menghargai Tuhan kita sendiri??? Belajar menghargai hal yang kecil akan melatih kita untuk menghargai hal yang lebih besar lagi.
Masalahnya di sini… terkadang kita sendiri salah dalam membaca kata-kata yang tertulis dalam bola itu atau salah menerima visi yang Tuhan berikan buat kita. Hal-hal inilah yang kadang menyebabkan terjadinya suatu masalah. Karena itu… Pahamilah apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita.
Dan… jangan sekali-kali kita memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberikan arahan tentang bagaimanakah hal yang benar itu atau menegur orang yang membuat kesalahan. Sehingga seandainya ada orang yang salah dalam menerima visi Tuhan dalam hidup mereka, mereka boleh sadar dan mengerti dan berbalik dari jalan mereka yang keliru.
Karena itu, Tuhan mengharapkan setiap dari kita, dengan karakteristik special yang kita miliki sesuai dengan perspektif khusus yang telah Tuhan berikan, bukan untuk saling membanggakan diri. Bapa ingin agar kita saling melengkapi.
Ingat… semua kata-kata yang ada pada bola itu tidak akan pernah terbaca ‘completely’ kalo setiap orang tidak mau berdiri teguh sesuai dengan perspektif yang telah Bapa berikan dan berusaha sebaik mungkin sesuai dengan potensi yang telah Tuhan berikan.
Saat semua kata-kata (visi) itu lengkap digenapi, banyak hal dahsyat yang akan terjadi di tengah-tengah kita. Kegerakan Roh Allah (revival) akan terjadi bagi kita semua…
The End
Bayangkan dalam pikiran kita masing-masing, sebuah bola yang guede banget… terus di badan bola itu tertempel begitu banyak kertas-kertas kecil dengan kata-kata yang berbeda-beda, tertulis di atas kertas itu. Kemudian kita bayangkan ada banyak orang yang berkeliling di sekitar bola itu. Kepada tiap-tiap orang, dibagikan sebuah kertas dan pena dan diberi instruksi untuk mencatat semua kata-kata yang dapat mereka lihat di badan bola itu.
Apa hasilnya saat semua orang sudah menyelesaikan tugas mereka??? Apa mungkin ada 2 orang saja yang bisa mencatatkan semua kata-kata dengan persis sama??? Nggak mungkin bukan !!! Karena masing-masing dari mereka berada pada posisi yang berbeda.
Lucu bukan… Tuhan menciptakan perspektif yang berbeda-beda bagi masing-masing individu. Apa alasannya??? Itu terjadi agar semua visi dan tugas dan kehendak yang dia rindukan untuk terjadi bagi kita, umat manusia, dapat dipenuhi ‘completely’. Kalo diilustrasikan, semua kata-kata yang tertulis pada badan bola tadi dapat terbaca semuanya…
Sekarang ini bukan saatnya lagi bagi kita untuk meributkan tulisan manakah yang sebenarnya paling benar, karena kadang kita suka sekali menyalahkan orang lain kalo kata-kata yang dituliskannya itu salah, tapi yang benar itu punyanya. Please dehh… sebenernya semua kata-kata itu memang ada pada bola, hanya saja letaknya yang berbeda, sehingga dengan sudut pandang yang berbeda, akan kelihatan berbeda pula ato bahkan nggak keliatan sama sekali.
Terkadang… kita semua saat menghadapi masalah perbedaan yang ada di antara kita sering berusaha mempertanyakan tentang “bagaimana kita memposisikan diri kita sehingga bisa melihat dari sudut pandang yang sama???”
Bukan itu maksudnya… Tuhan menciptakan setiap orang dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan tujuan agar mereka saling melengkapi, …sehingga genaplah Firman Tuhan atas semua tujuan yang telah direncanakan bagi hidup kita semua.
Kita tidak disuruh untuk memposisikan diri kita di tempat yang persis sama di tempat orang lain untuk melihat kata-kata yang sama persis dengan apa yang orang lain itu baca. Itu tidak mungkin karena posisi itu sudah ditempati oleh orang lain itu. Katakanlah sekarang kita berusaha untuk sedekat mungkin denga posisi dimana orang itu berada. Tapi… tetap saja masih ada kata-kata yang tidak bisa terbaca oleh kita, sehingga hasilnya juga akan berbeda.
Dan… apabila kita bisa melihat sebagian besar kata-kata yang dibaca oleh orang lain itu, bukan berarti kita akan mampu untuk mengerti dan memahami perspektif yang dia miliki, karena…. Perspektif kita sesungguhnya berada pada tempat di mana kita pertama kali berdiri untuk membaca kata-kata yang telah Tuhan instruksikan untuk kita baca.
Perspektif atau visi yang berbeda itu adalah karunia yang telah Tuhan berikan secara ‘khusus’ ditempatkan pada masing-masing individu. Jadi kalo kita sendiri tidak bisa menghargai karunia Tuhan, bagaimana mungkin kita bisa menghargai Tuhan kita sendiri??? Belajar menghargai hal yang kecil akan melatih kita untuk menghargai hal yang lebih besar lagi.
Masalahnya di sini… terkadang kita sendiri salah dalam membaca kata-kata yang tertulis dalam bola itu atau salah menerima visi yang Tuhan berikan buat kita. Hal-hal inilah yang kadang menyebabkan terjadinya suatu masalah. Karena itu… Pahamilah apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita.
Dan… jangan sekali-kali kita memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Yang bisa kita lakukan hanyalah memberikan arahan tentang bagaimanakah hal yang benar itu atau menegur orang yang membuat kesalahan. Sehingga seandainya ada orang yang salah dalam menerima visi Tuhan dalam hidup mereka, mereka boleh sadar dan mengerti dan berbalik dari jalan mereka yang keliru.
Karena itu, Tuhan mengharapkan setiap dari kita, dengan karakteristik special yang kita miliki sesuai dengan perspektif khusus yang telah Tuhan berikan, bukan untuk saling membanggakan diri. Bapa ingin agar kita saling melengkapi.
Ingat… semua kata-kata yang ada pada bola itu tidak akan pernah terbaca ‘completely’ kalo setiap orang tidak mau berdiri teguh sesuai dengan perspektif yang telah Bapa berikan dan berusaha sebaik mungkin sesuai dengan potensi yang telah Tuhan berikan.
Saat semua kata-kata (visi) itu lengkap digenapi, banyak hal dahsyat yang akan terjadi di tengah-tengah kita. Kegerakan Roh Allah (revival) akan terjadi bagi kita semua…
The End
UNITY BY PERSPECTIVE – MIRACLE OF THE RAINBOW AND BALL
PART ONE
Guyz.. kalian pernah nggak ngeliat pelangi yang cuma punya 1 warna doang??? Pasti biasa banget kan ya.. Sama kaya kita semprotin cat ke udara, pasti hasilnya ga jauh beda. Apalagi kalo disusun oleh 1 warna doang, namanya udah bukan pelangi lagi.
Kalu orang bilang pelangi itu indah, itu karena mereka ngeliat sebuah pelangi dengan komposisi dan paduan warna yang bermacam-macam yang bercampur dengan indah. Kalo kita sampai ngelihat pelangi dengan warna yang berpisah-pisah atau nggak lengkap lagi atau bahkan cuma satu, udah bakalan susah lagi buat kita untuk mencari lagi esensi keindahannya.
Apa jadinya kalo kita melihat masing-masing elemen berkumpul dan bersatu menjadi satu??? Sama kaya pelangi ini…. Dijamin kalo sesuatu yang dahsyat dan indah bakal terjadi. Karena itu kalo sampai ada sebuah elemen yang keluar dari persatuannya, itu adalah sebuah hal yang amat sangat disayangkan; soalnya, nggak cuma elemen itu yang rugi, tetapi melibatin semua elemen yang berkumpul jadi satu. Jadi jangan dipikir kalo ’cuma’ satu elemen doang nggak ada, semuanya bakal fine-fine aja. Itu keliru….
Kaya iklan Sampoerna hijau “ nggak ada loe nggak rame…”
Sebuah pelangi terdiri dari kilasan warna yang saling berpancar sesuai dengan intensitas mereka masing-masing. Ada pancaran warna yang kuat, ada juga yang lemah. Apa dipikir kalo warnanya berpoancar lebih kuat itu berarti dia lebih baik daripada yang lainnya??? Sama sekali enggak… justru dengan adanya warna-warna yang berpancar dengan samar, warna-warna yang berpancar lebih kuat bisa berpadu dan terhubung menjadi satu. Jadi boleh diliat kan betapa pentingnya warna samar itu…
Persatuan itu juga sama seperti pelangi. Persatuan bukanlah soal tentang bagaimana masing-masing elemen menonjolkan kemampuan atau potensinya, melainkan bagaimana masing-masing elemen mampu menyadari akan potensi dan kemampuan khusus yang diberikan Tuhan kepada masing-masing individu sesuai dengan takaran dan porsi-Nya.
Lihatlah pada pelangi…. Mereka indah karena memiliki 7 buah warna yang berbeda-beda tetapi berpancar dengan padunya… Masing-masing dari warna itu saling bersinar dengan memancarkan “ the very best of them”. Sama juga dengan persatuan… unity ataoe persatuan bukanlah cara kita menyatukan diri dengan mencampurkan semua karakteristik khusus yang dimiliki tiap-tiap elemen menjadi satu, tetapi lebih kepada bagaimana masing-masing elemen atau individu dapat berdiri teguh dan memancarkan atau bekerja dengan mengeluarkan “ the very best of them” yang nantinya akan saling mendukung antara satu dengan yang lain….
Coba kita bayangin kalo semua warna yang ada dalam sebuah pelangi dicampur aduk menjadi satu. Jelek banget bukan hasilnya. Nantinya warna yang muncul malah menjadi gak karuan dan aneh bin ajaib. Ntar malah jadi gado-gado dong. Hohoho…
Ke-7 buah warna itu tidak berusaha untuk mencampur adukkan warna-warna mereka menjadi satu. Malahan… mereka bersatu dengan saling mendekatkan diri dan memancarkan “ the very best of them”, dari karakteristik-karakteristik khusus mereka yang berbeda-beda dan bekerja bersama-sama secara sinergis.
Hasilnya… Wow… Sebuah pelangi yang dahsyat indahnya yang muncul pada tempat, waktu, dan cara yang tepat…
to be continued...
Guyz.. kalian pernah nggak ngeliat pelangi yang cuma punya 1 warna doang??? Pasti biasa banget kan ya.. Sama kaya kita semprotin cat ke udara, pasti hasilnya ga jauh beda. Apalagi kalo disusun oleh 1 warna doang, namanya udah bukan pelangi lagi.
Kalu orang bilang pelangi itu indah, itu karena mereka ngeliat sebuah pelangi dengan komposisi dan paduan warna yang bermacam-macam yang bercampur dengan indah. Kalo kita sampai ngelihat pelangi dengan warna yang berpisah-pisah atau nggak lengkap lagi atau bahkan cuma satu, udah bakalan susah lagi buat kita untuk mencari lagi esensi keindahannya.
Apa jadinya kalo kita melihat masing-masing elemen berkumpul dan bersatu menjadi satu??? Sama kaya pelangi ini…. Dijamin kalo sesuatu yang dahsyat dan indah bakal terjadi. Karena itu kalo sampai ada sebuah elemen yang keluar dari persatuannya, itu adalah sebuah hal yang amat sangat disayangkan; soalnya, nggak cuma elemen itu yang rugi, tetapi melibatin semua elemen yang berkumpul jadi satu. Jadi jangan dipikir kalo ’cuma’ satu elemen doang nggak ada, semuanya bakal fine-fine aja. Itu keliru….
Kaya iklan Sampoerna hijau “ nggak ada loe nggak rame…”
Sebuah pelangi terdiri dari kilasan warna yang saling berpancar sesuai dengan intensitas mereka masing-masing. Ada pancaran warna yang kuat, ada juga yang lemah. Apa dipikir kalo warnanya berpoancar lebih kuat itu berarti dia lebih baik daripada yang lainnya??? Sama sekali enggak… justru dengan adanya warna-warna yang berpancar dengan samar, warna-warna yang berpancar lebih kuat bisa berpadu dan terhubung menjadi satu. Jadi boleh diliat kan betapa pentingnya warna samar itu…
Persatuan itu juga sama seperti pelangi. Persatuan bukanlah soal tentang bagaimana masing-masing elemen menonjolkan kemampuan atau potensinya, melainkan bagaimana masing-masing elemen mampu menyadari akan potensi dan kemampuan khusus yang diberikan Tuhan kepada masing-masing individu sesuai dengan takaran dan porsi-Nya.
Lihatlah pada pelangi…. Mereka indah karena memiliki 7 buah warna yang berbeda-beda tetapi berpancar dengan padunya… Masing-masing dari warna itu saling bersinar dengan memancarkan “ the very best of them”. Sama juga dengan persatuan… unity ataoe persatuan bukanlah cara kita menyatukan diri dengan mencampurkan semua karakteristik khusus yang dimiliki tiap-tiap elemen menjadi satu, tetapi lebih kepada bagaimana masing-masing elemen atau individu dapat berdiri teguh dan memancarkan atau bekerja dengan mengeluarkan “ the very best of them” yang nantinya akan saling mendukung antara satu dengan yang lain….
Coba kita bayangin kalo semua warna yang ada dalam sebuah pelangi dicampur aduk menjadi satu. Jelek banget bukan hasilnya. Nantinya warna yang muncul malah menjadi gak karuan dan aneh bin ajaib. Ntar malah jadi gado-gado dong. Hohoho…
Ke-7 buah warna itu tidak berusaha untuk mencampur adukkan warna-warna mereka menjadi satu. Malahan… mereka bersatu dengan saling mendekatkan diri dan memancarkan “ the very best of them”, dari karakteristik-karakteristik khusus mereka yang berbeda-beda dan bekerja bersama-sama secara sinergis.
Hasilnya… Wow… Sebuah pelangi yang dahsyat indahnya yang muncul pada tempat, waktu, dan cara yang tepat…
to be continued...
Langganan:
Postingan (Atom)