Jumat, 19 September 2008

Ketika Kita Meratapi Masa Lalu

GURATAN MASA DEPAN

Sore ini aku sedang merenung di teras rumahku dengan perasaan jengkel akan nasibku yang begitu jelek. Baru-baru ini, perusahaanku yang sudah berdiri kokoh selama 20 tahun, hasil kerja kerasku selama ini, bangkrut hanya dalam hitungan bulan. Aku protes dan marah luar biasa kepada Tuhan. Kenapa semua ini harus terjadi? Aku pun mulai mengumpat dan mengutuki-Nya.

Lalu saat aku memandang ke belakang, tiba-tiba saja terlintas di benakku akan kesialan-kesialan yang menimpa di masa lalu. Saat masih kecil, aku tinggal bersama pamanku. Orang tuaku bercerai dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengasuhku. Merepotkan, itu mungkin yang timbul dalam benak mereka. Saat hendak memasuki SMA pun, aku gagal masuk sekolah unggulan yang menjadi pilihan utama ku, akhirnya aku hanya bisa masuk ke sekolah buangan dan lulus dengan predikat yang biasa-biasa saja. Lebih jauh ke depan, saat akan menikah, wanita yang sudah menjadi dambaan hidupku selama 5 tahun mengalami kecelakaan dan meninggal. Walaupun akhirnya menikah, aku tetap saja menginginkan kekasihku yang lama.

Lama aku merenung, rasa kantuk melanda dan akhirnya aku pun tertidur. Sungguh aneh karena rasanya seperti dibawa ke masa lalu. Aku pun melihat diriku di masa kecil bersama kedua orang tua ku yang sedang bertengkar. Cepat-cepat aku melerai mereka dan berusaha menyelesaikan masalah mereka. Mereka pun dapat akur kembali. Betapa bahagianya diriku karena orang tuaku tidaj jadi bercerai. Namun, sesosok bayangan masa depan muncul dan memperlihatkan diriku yang hidupnya tidak kenal dengan Tuhan. Ya, pamanku memang seorang pendeta. Dalam sekelebat saja aku kembali berpindah ke masa akhir SMP ku. Aku sungguh merasa senang saat bertemu ‘diriku yang dulu’ dan mulai menasehatinya agar belajar dengan giat. Pada akhirnya diriku yang dulu berhasil masuk sekolah unggulan. Akan tetapi, apa yang ada di dalam benakku sungguh sangat berbeda dengan gambaran di masa depan. Di sekolah itu aku justru menjadi anak yang hancur-hancuran akibat pergaulan yang salah, mulai dari rokok, drugs, sampai free sex. Masih terkaget-kaget, tiba-tiba aku bertambah maju lagi ke depan. Aku melihat kekasihku yang akan mengalami kecelakaan, lalu cepat-cepat aku menolong dan menyelamatkan dirinya. Luar biasa sekali, akhirnya aku berhasil menikah dengannya. Tapi, aku tertegun saat aku melihat diriku di masa depan yang begitu miskin, serta pemandangan akan wanita dambaanku yang berselingkuh dengan pria lain. Hatiku hancur melihat semua kenyataan itu. Aku pun berteriak…..

…Spontan saja, aku terhenyak bangun melihat semua penglihatan baru saja yang begitu aneh. Aku pun duduk bersujud menangis meraung-raung tiada henti-hentinya. Ampun… ampun Tuhan. Semua kata-kata penyesalan keluar dan mengalir begitu saja dari mulutku. Air mataku deras mengucur keluar. Aku berpikir bahwa aku telah begitu egois selama ini karena aku hanya memikirkan apa mauku saja dan aku telah begitu meragukan kuasa Tuhan yang telah membimbingku dari masa kecilku. Ternyata semua yang melanda diriku adalah bentuk dari karya keselamatan Allah untuk aku. Semuanya begitu sempurna dan mendatangkan kebaikan bagiku.

Kadang-kadang kita juga sama kaya si ‘aku’ di atas ini. Sering banget kan kita marah-marah sama Tuhan, orang tua, temen2, dll, cuma gara-gara apa yang kita harapkan nggak terlaksana. Kita kadang sama egoisnya dengan si ‘aku’ tadi, karena apa-apa mesti cocok sama apa mau kita. Saat masalah-masalah datang (nggak seperti yang kita pikirin), kita pun mulai ragu sama Tuhan n takut sama masa depan kita atau apa yang bakal kita alami ke depannya nanti.

Tapi…Kita mesti ingat kalau : Rom 8:28 ……………………………………………………….

Tidak ada komentar: